Pondok Pesantren (Ponpes) kini tak lagi melulu berurusan dengan ngaji kitab kuning. Kenyataannya, Ponpes telah terbukti mampu berkembang merambah ke berbagai bidang. ...Friday, 30 October 2009
Kabar duka kembali menimpa pahlawan devisa asal Tulungagung. Indri Mulyati, 28, dilaporkan tewas di Sarqiah, Al-Jubeil, Arab Saudi. Buruh Migrant Permpuan warga D...Tuesday, 01 September 2009
Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan memiliki arti sangat penting dalam memajukan kehidupan sebuah bangsa. Namun, proses pendidikan di lembaga pendidikan tidak aka...Monday, 10 August 2009
Sebuah negara yang telah merdeka selama 64 tahun, seharusnya merdeka atau bebas dari kemiskinan, namun yang kini terjadi justru sebaliknya. Sejak teks Proklamasi keme...Monday, 10 August 2009
Fakta menunjukkan bahwa sampai saat ini jumlah lapangan kerja di dalam negeri sangat tidak sebanding dengan tingginya jumlah angkatan kerja yang tersedia. Akibatnya, ...Friday, 03 July 2009
Kelompok Sumber Anugerah Desa Karangrejo Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung memang belum lama terbentuk, namun usaha pemberdayaan ekonomi yang dilakukan patut ...Saturday, 27 June 2009
Anggaran Pendidikan dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional) memang terus meningkat, bahkan angkanya diklaim sudah mencapai 20 % sebagaimana diamanatkan ...Saturday, 27 June 2009| Satu lagi, Buruh Migrant Menjadi Korban Kekejaman Majikan |
|
|
|
| Written by Kerja Warga |
| Tuesday, 01 September 2009 11:11 |
|
Indri Mulyati, warga Dusun Salam, Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Tulungagung, dikabarkan tewas saat di Arab Saudi. Wanita 28 tahun itu meninggal akibat mengalami kekerasan sang majikan. Kabar kematian Indri Mulyati membuat Suryanto (suaminya) menjadi syok. Saat ditemui di rumahnya di Dusun Salam, Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, kondisi pria bertubuh kurus itu memprihatinkan. Dia mengalami tekanan mental (depresi). Ayah dari Rahma Maulida itu juga sakit. Suryanto mengaku terpukul dengan kabar kematian perempuan yang dinikahinya pada 2003 itu. Apalagi, kematian istrinya diduga karena kekerasan yang dilakukan majikan. Punggung perempuan kelahiran Ponggok, Kabupaten Blitar itu dipukul kayu oleh majikan yang berada Sarqiah, Al Jubail, Arab Saudi. “Saya menerima kabar tentang istri saya sekitar pukul 10.00 kemarin. Yakni ditelepon oleh rekan kerja istri saya sesama Buruh Migrant dari Jawa Barat,” ucap Suryanto dengan nada terbata-bata. Suryanto menuturkan, dalam telepon, Buruh Migrant asal Jawa Barat tersebut memastikan apakah benar memiliki istri bernama Ani yang bekerja di Sarqiah, Al Jubail, Arab Saudi. “Awalnya saya bilang tidak. Karena dia bilang istri saya bernama Ani bukan Indri Mulyati. Tapi setelah dia menerangkan bahwa Ani memiliki suami bernama Suryanto, warga Dusun Salam, Desa Notorejo, langsung saya benarkan informasi tersebut” ucapnya. Mendapat kabar itu, dirinya langsung lemas. Apalagi TKW asal Jawa Barat itu memberi keterangan bahwa istrinya tewas karena bentrok dengan majikannya bernama Hamat Aedh Al Syamri. Majikan tersebut memukulkan kayu ke punggung istrinya. “Wah saya nggak kuat mikir, istri saya tewas disebabkan hal yang saya kurang tahu. Pasalnya, semua itu berdasarkan telepon. Pokoknya saya hanya meminta agar istri saya dipulangkan ke sini baik hidup atau mati,” katanya dengan menunjukkan foto istrinya. Suryanto melanjutkan, berdasarkan informasi yang dia terima, istrinya tewas pada hari Rabu 19 Agustus lalu. Namun, informasi itu baru dia terima pada 24 Agustus. “Mendapatkan kabar itu, langsung saya laporkan ke kepala desa. Setelah dicek kepala desa, ternyata informasi itu benar,” terang Suryanto. Masih menurut Suryanto, istrinya berada di Arab Saudi sekitar 3 bulan 20 hari. “Dia berangkat dari Tulungagung ke Arab pada 9 Juli. Bahkan dia minta doa kepada saya agar segera dapat kirim uang,” katanya. Suryanto menambahkan, sebelum diterimanya kabar tersebut dia sempat mendapatkan firasat melalui mimpi. Dalam mimpi, dirinya salat berjamaah dengan istrinya di Mekkah. “Dalam mimpi saya, tiba-tiba dia menghilang di balik padang pasir,” ujarnya. Orang tua Suryanto bernama Jarlah, 55, mengatakan, pihaknya juga sudah koordinasi dengan Agen Jasa Penyedia Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang memberangkatkan Indri Mulyati. Perwakilan PJTKI berada di Desa Pakel, Kecamatan Ngantru. “Kami sudah melaporkan kepada PJTKI. Katanya semuanya akan ditanggung oleh pihak Arab Saudi. Nantinya juga mendapatkan santunan Rp 1 juta,” kata Jarlah sambil menitihkan air mata. Jarlah mengatakan, dirinya berharap agar pemerintah ikut menyelesaikan masalah ini. “Kami orang desa, nggak ngerti masalah ngurus-ngurus hal itu,” kata Jarlah. Begitu sayang Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertras) Tulungagung belum merespon mengenai hal tersebut. (Tri_RaTu2009) |
| Last Updated ( Tuesday, 01 September 2009 21:59 ) |